SUARA PANTAU – Perjalanan hidup tidak selalu mudah. Seperti halnya perjuangan mahasiswa asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Hamri Nur Saldi yang biayai kuliah sendiri dengan berjualan di Kampus.
Hamri Nur Saldi dikukuhkan jadi salah satu wisudawan di Universitas Pamulang (Unpam), Tangerang Selatan pekan lalu.
Putra daerah asal Kabupaten Bulukumba ini, bertekad merantau meninggalkan kampung halaman demi meraih gelar Sarjana di bidang Hukum di Unpam.
Kepada Suara Pantau, Hamri Nur Saldi menceritakan aktivitasnya membiayai kuliah dan aktif di berbagai organisasi.
Hamri Nur Saldi Aktif Berorganisasi
Hamri Nur Saldi juga aktif di IKAMI Sulawesi Selatan.
Hamri Nur Saldi yang memilih berjualan takoyaki di lingkungan kampus sebagai cara untuk membiayai kebutuhan kuliahnya.
Setiap sore, setelah mengikuti perkuliahan, ia mendorong gerobak kecil menuju area kampus yang ramai oleh mahasiswa.
Dari pukul 16.00 hingga malam hari, ia menawarkan takoyaki buatannya kepada teman-teman mahasiswa, dosen, hingga pengunjung kampus.
“Karena tidak ingin sepenuhnya bergantung pada orang tua yang bekerja dengan penghasilan terbatas di desa,” terangnya.
Hasil penjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli buku, membayar biaya praktikum, hingga membantu biaya kuliah.
Perjuangan Jualan Takoyaki di Kampus Unpam
“Saya percaya kuliah bukan hanya tentang belajar di kelas, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas kehidupan sendiri,” ujar Hamri Nur Saldi.
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Ada hari ketika dagangan cepat habis, tetapi ada pula saat hujan membuat pembeli sepi.
Meski begitu, ia tetap menjaga kualitas rasa dan pelayanan agar pelanggan kembali membeli.
Kehadirannya di kampus perlahan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain.
Banyak pelanggan yang datang bukan hanya untuk menikmati takoyaki.
Tetapi juga memberikan semangat atas perjuangannya menyeimbangkan perkuliahan dan usaha kecil yang dirintisnya.
Pihak kampus pun mengapresiasi semangat kewirausahaan mahasiswa yang mampu membangun kemandirian tanpa meninggalkan tanggung jawab akademik.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk terus belajar dan berkembang.
Melalui gerobak takoyaki sederhana, pemuda desa itu membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan keberanian mengambil peluang dapat menjadi bekal penting dalam meraih masa depan yang lebih baik.
(***)
Baca juga:
Kisah Inspiratif Mahasiswi UIN Banjarmasin Sukses Merintis Bisnis dan Lulus 3,5 Tahun




