Sementara dukungan dari para simpatisan Anies juga sulit diharapkan mengingat mereka di masa lalu pernah “mengharamkan diri” untuk memilih Partai NasDem.
Pada saat yang sama meski sentimen positif terhadap Anies mengalami kenaikan, namun sentimen negatif terhadap Gubernur DK Jakarta itu juga terus meningkat pasca dideklarasikan sebagai capres oleh Partai NasDem.
Sentimen negatif terhadap Anies terutama didominasi isu korupsi hajatan Formula-E, pemanggilan Anies oleh KPK dan masalah penanganan banjir di Jakarta.
Elektabilitas Prabowo Kokoh di Puncak
Sementara itu berdasarkan hasil telesurvey PWS ditemukan fakta bahwa posisi Prabowo Subianto di puncak elektabilitas relatif belum tergoyahkan. Meskipun belum begitu aktif bersolek di media sosial maupun terjun langsung di masyarakat, Prabowo ternyata masih unggul atas tokoh-tokoh lain yang begitu gencar mensosialisasikan diri sebagai capres 2024.
Elektabilitas Prabowo Subianto sebesar 30,8% alias leading sangat signifikan atas dua gubernur yang sering disebut-sebut sebagai penantang terberat Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, yakni Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Anies Baswedan. Bahkan gap elektabilitas antara kedua tokoh ini dengan Prabowo semakin lebar.
Pada survei PWS Januari 2022 elektabilitas Prabowo baru sebesar 22,9%, sekarang telah meningkat menjadi 30,8%. Sementara itu pada bulan Januari 2022 elektabilitas Ganjar 19,8%, Oktober ini tinggal 18,8%.



