Pilgub DKI Jakarta akan diikuti oleh tiga pasangan calon. Dengan komposisi ini, petanaha Basuki Tjahaja Purnama yang dikenal dengan Ahok sangat percaya diri untuk memenangkan pemilihan Gubernur.
Saat masih verifikasi berkas usungan partai terhadap paslon di KPU terjadi insiden di kepulauan seribu. Ahok, dalam hal ini petahana menyinggung surat Al Maidah ayat 51. Dalam pernyataannya melahirkan gelombang protes dari mayoritas muslim di DKI Jakarta.
Situasi ini bukan hanya berdampak di ibukota tapi sangat berpengaruh se Nusantara. Inilah titik balik bergesernya polarisasi politik. Jika dianalogikan polarisasi segmentasi elektoral menjadi 3 bagian. Yaitu kiri 25% tengah 50% dan kanan 25%. Yang selama ini didominasi oleh segmentasi tengah mengalami pergeseran yang drastis.
Pada pemilihan gubernur DKI Jakarta pergeseran sangat dominan ke kanan. Sehingga berhasil mengantarkan Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Atas kesalahannya, bisa jadi ini adalah karma politik buat Ahok. Tapi, bisa berbuah manis buat kelompok pemilih kiri dan kanan. Dan terus berlanjut pada Pilpres 2019.
Pasca Pilpres 2019 yang menyisakan polarisasi pemilih terus berlanjut tidak lagi skala ibukota tapi secara nasional. Beberapa orang berpandangan dan mulai berhitung bahwa segmentasi elektoral tengah bisa jadi hanya tersisa 20 persen.




