Walaupun beberapa pengamat berpandangan keputusan mendeklarasikan Anies oleh Nasdem adalah keputusan yang berani dan terlalu dini.
Penilaian itu didasari antara lain bahwa beberapa elit partai di internal masih ada penolakan, ide dan gagasan Anies belum sejalan dengan visi Indonesia Maju saat ini, dapat berimplikasi pada penempatan kader Nasdem dalam kabinet Indonesia Maju, dan belum solidnya partai yang ingin mengusung Anies sebagai capres dan berjuang bersama dalam poros perubahan.
Langkah ini menjadi canggung dan bisa memicu disharmonisasi dalam koalisi Indonesia Maju. Apapun argumennya.
Tapi keputusan ini tentunya telah dihitung secara matang. Selain kedekatan sebagai salah satu pendiri ormas Nasdem. Oleh Surya Paloh dan partai Nasdem, Anies telah menerobos nurani masyarakat yang menginginkan sebuah perubahan. Selain tidak terlepas dari jejak rekamnya di DKI Jakarta.
Kader Nasdem meyakini Anies Baswedan adalah figur pembawa harapan baru untuk Indonesia menjadi lebih baik lagi. Efek ekor jas juga merupakan hal yang bisa diperhitungkan oleh partai Nasdem.
Penyelenggaraan pileg dan pilpres secara bersamaan menguntungkan partai yang memiliki figur potensial untuk mengungkit elektoral partai. Ini merupakan hal yang fundamental. Apalagi Anies dan Nasdem memiliki keselarasan dalam hal ini.




