Rantai pasok yang dimaksud adalah adanya petani yang memasok bahan baku, UMKM yang memproduksi produk, dan mengirimkannya kepada konsumen.
“Sebaik-baiknya bisnis tentu yang bisa bermanfaat buat orang banyak, termasuk saudara-saudara kita para petani,” urai Fidya yang juga alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya ini.
Fidya juga mengingatkan bahwa pedagang es tradisional kini perlahan mulai tergeser oleh dominasi minuman kekinian yang beberapa diantaranya merupakan minuman dari luar negeri.
Baca juga: Pelatihan Budidaya Kentang Desa Mekar Sari Dihadiri Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang
Ia menyebut misalnya dominasi bubble tea, minuman manis asal Taiwan, berbahan dasar teh yang dicampur susu, es, dan boba dari tepung tapioka. Lalu ada thai tea, minuman khas negeri gajah putih, Thailand.
“Kita sadar sekarang eranya globalisasi. Jadi tantangannya adalah bagaimana minuman tradisional bisa menyesuaikan diri tanpa harus meninggalkan identitas aslinya,” ujar Fidya.
Baca juga: Moekhlas Sidik Kunjungi Petani Kopi Prigen Pasuruan
Oleh karena itu, Cincau Clinic memasarkan es cincau susu yang dikreasi dalam berbagai varian rasa, mulai dari es kopyor, brown sugar, alpukat, cocopandan, sampai susu kedelai (soya).
“Alhamdulillah respons pasar sejauh ini cukup baik. Bisa diterima di berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak sampai dewasa,” tukas Fidya. Salah satu outlet Cincau Clinic ini berlokasi di Jalan Puri Gading Utara Raya no. 108, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi.




