Fenomena Biksu Thudong
Contoh toleransi yang marak dibicarakan belakangan ini, dimana terciptanya toleransi tersebut berawal dari aksi thudong yang dilakukan oleh sejumlah biksu, aksi tersebut mendapat senyum ramah oleh masyarakat Indonesia.
Thudong sendiri adalah perjalanan ritual keagamaan Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki, dimana menempuh jarak ribuan kilometer menjelang hari Trisuci Waisak.
Perjalanan ritual ini diinisiasi oleh biksu asal Indonesia, Bhante Kantadhammo (Bhante Wawan). Kegiatan thudong tersebut diikuti oleh 32 biksu dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia dalam rangka menyambut hari raya Waisak pada tanggal 4 Juni 2023 dengan tujuan akhir perjalanan yaitu di Candi Borobudur.
Perjalanan para biksu tersebut di mulai dari Thailand Selatan dan hingga tanggal 16 Mei 2023, rombongan biksu telah singgah di sebuah Vihara di Jatibarang, Indramayu.
Sepanjang perjalanan, aksi para biksu disambut dengan senyum ramah oleh masyarakat sekitar. Tidak memandang agama, masyarakat dan para tokoh agama setempat turut ikut serta membantu dan sangat antusias dengan ritual thudong yang dilakukan oleh para bisu tersebut.
Tidak jarang masyarakat kerap memberikan minuman dan makanan bahkan menawarkan tempat persinggahan untuk para biksu supaya lekas beristirahat. Dimana penawaran yang diberikan masyarakat, murni tanpa mengharap imbalan sepeserpun. Selepas itu, perjalanan thudong tersebut dilanjutkan kembali menuju arah Cirebon, dengan tetap dikawal oleh beberapa keamanan setempat.
Para biksu juga beristirahat, singgah di rumah umat dan beberapa tempat ibadah, seperti Vihara Buddha Dharma, Vihara Buddha Loka, Vihara Sariputra Cikarang, Klenteng Liong Hok Bio, beberapa mushola dan masjid setempat. Ketika memasuki waktu sholat, para biksu tetap menunggu dan sangat menghormati para pengawal mereka yang sedang menunaikan sholat.




