“Warga tampak sangat antusias. Saya mewakili warga Kota Pekalongan, merasa senang dan gembira. Hal ini mudah-mudahan menjadi keberkahan tersendiri. Mari kita tunjukan, bahwa Kota Pekalongan terkait toleransi antar umat beragamanya sangat luar biasa,” tuturnya.
Uniknya bahkan para biksu juga mencicipi minuman teh khas Kota Pekalongan. Mereka juga sempat mencuci serta menjemur pakaian di atas Gedung Kanzus Sholawat.
Keesokan harinya, para biksu melanjutkan perjalanan lagi menuju Candi Borobudur sekitar pukul 05.00 wib dengan rute Pekalongan-Banyuputih-Kendal-Semarang-Ambarawa-Magelang.
Dimana perjalanan ritual para biksu tersebut juga dimaksudkan untuk membangun persaudaraan dan perdamaian umat manusia di dunia.
Sehingga dapat disimpulkan, toleransi itu indah, jika ada sikap saling keterbukaan antar pemeluk agama lain dan diiringi dengan senyum ramah yang membangun kerharmonisan dalam tantangan keberagaman.
Hubungan antar umat beragama yang telah dipraktikkan masyarakat menjadi aset sosial yang berharga untuk menjaga kerukunan umat beragama. Karena, kerukunan umat beragama sendiri adalah kondisi dimana antar umat beragama dapat saling menerima.
Serta saling menghormati keyakinan masing-masing, saling tolong menolong, dan bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.
Penulis: Aurelia Aflah Az Zahra
*Mahasiswa UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan




